Media Berita Surabaya – Angin puting beliung dilaporkan terjadi di kawasan Bandara Internasional Juanda, Surabaya, dengan kecepatan angin mencapai 48 knot. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang cukup intens di wilayah tersebut.
Peristiwa ini sempat mengundang perhatian publik karena terjadi di kawasan bandara yang menjadi salah satu pintu utama transportasi udara di Jawa Timur.
BMKG Jelaskan Penyebab Cuaca Ekstrem
BMKG menyampaikan bahwa angin puting beliung yang terjadi merupakan dampak dari awan Cumulonimbus, yaitu awan hujan dengan pertumbuhan vertikal yang sangat tinggi dan berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem.
Awan jenis ini dapat memicu hujan lebat, petir, angin kencang, hingga puting beliung dalam durasi singkat namun dengan intensitas kuat.
“Kecepatan angin tercatat mencapai 48 knot dan bersifat lokal serta berlangsung relatif singkat,” jelas BMKG dalam keterangannya.
Terjadi Secara Lokal dan Singkat
BMKG menegaskan bahwa fenomena puting beliung tersebut bersifat lokal dan tidak berlangsung lama. Namun, dampaknya tetap perlu diwaspadai karena kecepatan angin yang tinggi berpotensi membahayakan keselamatan dan mengganggu aktivitas, terutama di area terbuka.
Fenomena ini merupakan karakteristik cuaca ekstrem yang kerap terjadi pada masa peralihan musim atau saat kondisi atmosfer tidak stabil.

Baca juga: Kasus Pengusiran Nenek Elina di Surabaya, Arif Fathoni Dorong Peran Aktif Bakesbangpol Membina Ormas
Aktivitas Bandara Tetap Dipantau Ketat
Pihak pengelola Bandara Juanda bersama otoritas terkait langsung melakukan pemantauan kondisi cuaca dan keselamatan operasional. Langkah antisipasi dilakukan untuk memastikan aktivitas penerbangan tetap berjalan dengan memperhatikan aspek keselamatan.
Koordinasi dengan BMKG terus dilakukan untuk memperoleh pembaruan informasi cuaca secara real time.
BMKG Imbau Kewaspadaan
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya pengguna jasa penerbangan dan pihak terkait di sekitar bandara, untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Awan Cumulonimbus dapat tumbuh dengan cepat dan sulit diprediksi secara kasat mata.
Masyarakat juga diimbau untuk menghindari area terbuka saat terjadi hujan disertai angin kencang dan petir.
Potensi Cuaca Ekstrem Masih Ada
BMKG menyebutkan bahwa potensi kemunculan awan Cumulonimbus masih dapat terjadi, terutama pada siang hingga sore hari ketika pemanasan permukaan maksimum. Kondisi ini dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan lebat dan angin kencang secara tiba-tiba.
Oleh karena itu, pemantauan cuaca secara berkala menjadi hal penting bagi masyarakat dan pihak terkait.
Pentingnya Informasi Cuaca Dini
BMKG menekankan pentingnya peringatan dini cuaca sebagai upaya mitigasi risiko. Informasi cuaca yang cepat dan akurat diharapkan dapat membantu masyarakat dan pemangku kepentingan mengambil langkah antisipatif.
Pengguna jasa transportasi udara disarankan untuk selalu mengikuti informasi resmi cuaca dari BMKG dan pengelola bandara.
Penutup
Peristiwa angin puting beliung berkecepatan 48 knot di Bandara Juanda Surabaya menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem. BMKG memastikan akan terus melakukan pemantauan dan menyampaikan informasi terkini kepada publik.
Dengan kerja sama antara BMKG, pengelola bandara, dan masyarakat, diharapkan dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan serta keselamatan tetap terjaga.






