Media Berita Surabaya — Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, memaparkan langkah strategis pemerintah kota dalam menghadapi potensi banjir kiriman serta ancaman gempa bumi yang dapat berdampak pada wilayah perkotaan. Berbagai program mitigasi disiapkan untuk memastikan keselamatan warga sekaligus meminimalkan kerugian apabila bencana terjadi.
Cak Eri menegaskan bahwa Surabaya harus menjadi kota yang tangguh, bukan hanya mengandalkan pembangunan fisik, tetapi juga kesiapan sosial dan teknologi dalam menghadapi berbagai ancaman bencana alam.
Waspadai Banjir Kiriman dari Hulu
Salah satu fokus utama Pemkot Surabaya adalah penanganan banjir kiriman dari wilayah hulu seperti Mojokerto dan Sidoarjo. Tingginya intensitas hujan di kawasan tersebut kerap membuat debit air meningkat dan masuk ke Surabaya melalui beberapa aliran sungai.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemkot telah:
-
membersihkan dan memperbesar kapasitas saluran air,
-
mengoptimalkan pompa-pompa banjir,
-
memperluas program resapan air di kawasan rawan genangan,
-
serta memperkuat kerja sama antardaerah dalam sistem peringatan dini.
“Arahnya jelas: kita tidak bisa bekerja sendirian. Informasi soal kenaikan debit air di hulu harus cepat masuk ke Surabaya agar kami bisa bersiap,” ujar Cak Eri.
Mitigasi Gempa: Edukasi hingga Pemeriksaan Struktur Bangunan
Selain banjir, Pemkot juga memprioritaskan mitigasi gempa yang bisa berpotensi melanda wilayah Jawa Timur, termasuk Surabaya. Meski bukan daerah rawan gempa utama, guncangan dari pusat gempa di luar kota tetap bisa berdampak signifikan.
Untuk meminimalkan risiko, Pemkot Surabaya menjalankan sejumlah program:
-
edukasi kebencanaan di sekolah, kampung, dan perkantoran,
-
pelatihan simulasi evakuasi bagi warga,
-
pemeriksaan konstruksi bangunan vital dan fasilitas publik,
-
pembaruan jalur evakuasi dan titik kumpul aman di setiap kelurahan.
Cak Eri menyampaikan bahwa pemahaman masyarakat mengenai apa yang harus dilakukan saat gempa jauh lebih penting daripada sekadar peralatan. “Kesiapan mental dan pengetahuan warga itu kunci,” tegasnya.

Baca juga: Dishub Surabaya Tertibkan Jukir Nakal dan Derek Kendaraan Parkir Sembarangan
Kolaborasi dengan Komunitas dan Relawan
Dalam upaya memperluas jangkauan mitigasi, Pemkot menggandeng berbagai komunitas, relawan, hingga perguruan tinggi. Para relawan dilibatkan dalam sosialisasi, penyusunan peta risiko, hingga penanganan kedaruratan.
Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan Surabaya dalam urusan kebencanaan. Kota ini dikenal dengan ribuan kampung tangguh yang siap bergerak cepat saat situasi darurat.
Teknologi dan Data: Dasar Pengambilan Keputusan Cepat
Pemkot Surabaya kini memanfaatkan teknologi informasi untuk memantau kondisi cuaca, debit air sungai, dan potensi gempa. Data tersebut terhubung dengan ruang kendali (command center) yang dapat memberikan peringatan dini kepada OPD terkait.
Sensor peringatan dini banjir di sejumlah titik telah diperbarui, sementara jaringan komunikasi antar-posko diperkuat agar respons lebih cepat dan terkoordinasi.
“Setiap detik itu berarti dalam penanganan bencana. Kami ingin semua informasi terpusat dan bisa langsung direspons,” kata Cak Eri.
Komitmen Menjadikan Surabaya Kota Aman Bencana
Melalui rangkaian upaya tersebut, Pemkot Surabaya berharap risiko bencana dapat ditekan semaksimal mungkin. Cak Eri memastikan bahwa Surabaya akan terus berbenah dan memperkuat sistem mitigasi, terutama menghadapi musim penghujan dan meningkatnya aktivitas seismik di wilayah Jawa.
“Kita ingin Surabaya menjadi kota yang tidak hanya nyaman ditinggali, tetapi juga aman. Mitigasi bencana itu harus menjadi budaya,” pungkasnya.


