Media Berita Surabaya – Ancaman narkoba di kalangan pelajar Jawa Timur kian mengkhawatirkan. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur mengungkapkan temuan lebih dari 100 pelajar yang terindikasi positif narkoba berdasarkan hasil pemeriksaan dan deteksi dini yang dilakukan di sejumlah sekolah. Temuan ini memicu keprihatinan serius dan mendorong status darurat narkoba pelajar di wilayah tersebut.
Hasil tersebut diperoleh dari rangkaian kegiatan tes urine, sosialisasi, serta pemetaan kerawanan narkoba yang digelar BNNP Jatim bekerja sama dengan sekolah dan pemerintah daerah.
Hasil Tes Urine Ungkap Fakta Mencengangkan
Kepala BNNP Jawa Timur menyebutkan bahwa ratusan pelajar yang terdeteksi positif berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat SMP hingga SMA/SMK. Zat yang paling banyak ditemukan antara lain ganja, sabu, serta obat-obatan terlarang golongan psikotropika.
“Ini bukan angka kecil dan tidak bisa dianggap sepele. Fakta ini menunjukkan bahwa peredaran dan penyalahgunaan narkoba sudah masuk ke lingkungan sekolah,” ujarnya.
BNNP menegaskan, tes urine tersebut dilakukan secara acak dan bertujuan untuk pencegahan serta deteksi dini, bukan semata-mata penindakan.
Remaja Jadi Target Empuk Jaringan Narkoba
BNNP Jatim menilai pelajar menjadi sasaran empuk jaringan pengedar narkoba karena faktor usia yang masih labil, rasa ingin tahu yang tinggi, serta pengaruh lingkungan pergaulan dan media sosial. Selain itu, kurangnya pengawasan dan komunikasi antara orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar turut memperbesar risiko penyalahgunaan narkoba.
Peredaran narkoba di kalangan pelajar kini tidak lagi dilakukan secara konvensional, melainkan melalui sistem tertutup, pemanfaatan media sosial, bahkan modus “coba gratis” yang menjerat korban.

Baca juga: Perkumpulan Abdi Negara Jatim Siap Laporkan CEO RS Pura Raharja Surabaya ke Kejati
Dampak Serius bagi Masa Depan Generasi Muda
Penyalahgunaan narkoba di usia pelajar berdampak serius terhadap kesehatan fisik, mental, dan masa depan pendidikan. BNNP Jatim menegaskan bahwa penggunaan narkoba dapat merusak konsentrasi belajar, memicu perilaku menyimpang, hingga berujung pada tindak kriminal.
“Jika tidak ditangani secara serius, kita terancam kehilangan generasi emas. Ini bukan hanya persoalan hukum, tetapi persoalan masa depan bangsa,” tegas pihak BNNP.
Pendekatan Rehabilitasi Didahulukan
Dalam menangani kasus pelajar yang terdeteksi positif, BNNP Jatim mengedepankan pendekatan rehabilitasi dan pembinaan, bukan penindakan hukum. Para pelajar akan diarahkan untuk mengikuti program konseling, rehabilitasi medis dan sosial, serta pendampingan psikologis dengan melibatkan orang tua dan pihak sekolah.
BNNP juga menegaskan bahwa identitas para pelajar dirahasiakan demi menjaga masa depan mereka.
Peran Sekolah dan Orang Tua Diperkuat
BNNP Jatim meminta pihak sekolah untuk lebih aktif dalam membangun sistem pengawasan dan edukasi bahaya narkoba, termasuk memasukkan materi pencegahan narkoba dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pembinaan karakter.
Selain itu, orang tua diminta meningkatkan komunikasi dengan anak, memperhatikan perubahan perilaku, serta menciptakan lingkungan keluarga yang aman dan terbuka.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci
Menghadapi kondisi darurat ini, BNNP Jatim mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari Dinas Pendidikan, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga organisasi masyarakat dan tokoh agama.
Upaya pencegahan akan difokuskan pada edukasi masif, deteksi dini, penguatan ketahanan keluarga, serta penindakan tegas terhadap jaringan pengedar yang menyasar pelajar.
Alarm Keras bagi Dunia Pendidikan
Temuan lebih dari 100 pelajar positif narkoba menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Jawa Timur. BNNP Jatim menegaskan bahwa perang melawan narkoba tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak.
“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan bersih dari narkoba. Ini tanggung jawab bersama,” pungkasnya.






