Media Berita Surabaya – Suasana Kota Lama Surabaya berubah semarak dan penuh harmoni pada peringatan Hari Angklung Sedunia, Jumat (22/11). Sebanyak 600 pemain angklung wanita dari berbagai komunitas seni, sekolah, hingga organisasi perempuan tampil bersama dalam sebuah pertunjukan kolosal yang memukau ribuan pengunjung.
Pertunjukan Kolosal Pertama di Kota Lama
Acara yang dipusatkan di kawasan bersejarah Jalan Gula hingga Taman Sejarah Surabaya ini menjadi salah satu perayaan Hari Angklung Sedunia terbesar di Jawa Timur tahun ini. Para pemain angklung, sebagian besar mengenakan kebaya dan busana tradisional, memainkan berbagai lagu nusantara dan internasional secara kompak.
Hentakan ritmis angklung bergema di sepanjang kawasan Kota Lama, menghadirkan suasana akustik yang unik di antara bangunan-bangunan kolonial yang berdiri megah. Pengunjung terlihat antusias merekam momen tersebut menggunakan ponsel mereka.
“Ini pertama kalinya Kota Lama menyelenggarakan pertunjukan angklung sebesar ini, dan respons masyarakat luar biasa,” ujar Ketua Panitia, Rina Oktaviani.
Mengangkat Angklung sebagai Warisan Budaya Dunia
Peringatan ini juga menjadi ajang kampanye pelestarian angklung sebagai warisan budaya dunia yang telah diakui UNESCO sejak 2010. Panitia ingin mengenalkan kembali seni musik tradisional tersebut kepada generasi muda Surabaya.
Menurut Rina, dipilihnya 600 pemain wanita sekaligus bertujuan menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran signifikan dalam pelestarian budaya tradisional.
“Perempuan sejak dulu dekat dengan tradisi, termasuk musik. Hari ini kami ingin menunjukkan bahwa seni budaya dapat berkembang karena peran aktif perempuan,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/menyanyikan-lagu-lagu-daerah-nasional-maupun-internasional.jpg)
Baca juga: Untag Surabaya Gandeng UTHM Malaysia : Jalankan Program Nyata Mulai 2026
Diikuti Komunitas dan Sekolah dari Berbagai Wilayah
Para peserta tak hanya berasal dari Kota Surabaya, tetapi juga dari Gresik, Sidoarjo, Mojokerto hingga Lamongan. Mereka terdiri dari murid SD, ibu rumah tangga, komunitas perempuan, hingga pegawai instansi pemerintah.
Salah satu peserta, Lestari (45) dari komunitas angklung Sidoarjo, mengaku bangga dapat terlibat. “Berkumpul dengan ratusan pemain angklung wanita adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Suaranya merinding,” ujarnya.
Mendongkrak Ekowisata Kota Lama
Kegiatan ini sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke Kota Lama Surabaya. Sejak direvitalisasi, kawasan tersebut kerap menjadi tempat pelaksanaan seni budaya, dan peringatan Hari Angklung Sedunia menjadi puncak kegiatan budaya menjelang akhir tahun.
Pemkot Surabaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut. “Acara ini menunjukkan bahwa Kota Lama adalah panggung budaya hidup. Kami siap memfasilitasi kegiatan serupa di masa mendatang,” kata Kepala Disbudpar Surabaya.
Pedagang UMKM setempat mengaku omzet meningkat selama acara berlangsung berkat kunjungan wisatawan dan peserta dari luar kota.
Penampilan Lagu Nusantara Hingga Mancanegara
Dalam pertunjukan kolosal tersebut, ribuan pengunjung mendengarkan berbagai lagu yang dibawakan, mulai dari “Yamko Rambe Yamko,” “Suwe Ora Jamu,” “Rek Ayo Rek,” hingga lagu internasional seperti “Heal the World” dan “You Raise Me Up.”
Para pemain memainkan angklung di bawah arahan satu dirigen utama. Meski berasal dari kelompok berbeda, harmoni yang dihasilkan tetap selaras dan enak didengar.
Harapan untuk Perayaan Lebih Besar Tahun Depan
Panitia berharap peringatan tahun depan dapat melibatkan lebih banyak peserta dan merangkul komunitas seni dari seluruh Jawa Timur dan Indonesia. Mereka juga membuka peluang menjadikan acara ini sebagai agenda tahunan Kota Lama Surabaya.
“Kami ingin Surabaya menjadi pusat perayaan Hari Angklung Sedunia di Indonesia. Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi gerakan budaya,” tutur Rina.






